Pages

Showing posts with label Yogyakarta (Jogja). Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta (Jogja). Show all posts

Friday, June 29, 2012

Seminggu Bersama Negeri Sakura di Jogja Japan Week 2012


Datang dan saksikan secara langsung: Teater, Cosplay, Fashion Show, Workshop, Pemutaran Film Animasi Jepang, Seminar pendidikan, dan Berbagai lomba di "Jogja Japan Week"
Tempat : Jogja National Museum (JNM) (sebelah timur SMAN 1 Yogyakarta)
Waktu  : 5-8 Juli 2012
#FREE ENTRY!!!

5 Desa Wisata di Jogja yang Wajib Anda Kunjungi

Hari liburan ini pasti sudah anda nanti-nantikan. jika kota Jogja adalah pilihan liburan anda, maka anda tidak salah pilih. Ratusan tempat wisata tersedia di sini dan selalu menarik untuk dikunjungi. Selain Candi Prambanan dan Malioboro, Yogyakarta juga memiliki desa wisata yang menarik dan seru. Tiap desanya memiliki keunikan tersendiri. Ayo berkunjung ke 5 desa ini!
Yogyakarta memang istimewa untuk setiap traveler. Buktinya, ada banyak desa-desa wisata yang sungguh unik. Di sana, Anda bisa belajar hal-hal baru dan tentu saja menghirup udara yang segar. Berikut 5 desa wisata di Yogya yang wajib Anda kunjungi:

1. Desa Wisata Krebet

Ingin merasakan sensasi membatik di kayu? Datang saja ke Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, 12 km barat daya Kota Yogyakarta. Ini adalah desa wisata yang memiliki kerajinan membatik dengan menggunakan media kayu.

Beberapa ukiran dari kayu seperti topeng, sendal, hiasan dinding, aksesoris rumah tangga, gelang dan berbagai macam kerajinan dari kayu yang dibalut dengan motif batik. Bentuknya pun cantik dan sungguh unik!

Tidak hanya belanja untuk suvenir saja, Anda pun bisa mencoba langsung membuat ukiran kayu dari batik. tentu, dibutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi untuk menghiasi ukiran-ukiran kayu dengan motif batik yang beragam. Jika ingin lebih lama menetap, Anda bisa bermalam di homestay yang disediakan dengan tarif Rp 40.000- 100.000.

2. Tourism Village Kasongan

Masih di Kabupaten Bantul, ada Desa Wisata Kasongan yang juga menarik untuk dikunjungi. Di sana terdapat pengrajin gerabah yang membuat alat kebutuhan sehari-hari, hiasan dan cinderamata dari tanah liat.

Hasil kerajinan di desa wisata ini tidak kalah menarik. Aneka jenis kerajinan dari tanah liat dapat Anda temukan di sini. Hasil kerajinan tersebut berupa alat kebutuhan rumah tangga, seperti guci, pot bunga, kendi dan masih banyak lagi. Bentuk-bentuknya pun unik dan dapat menjadi oleh-oleh cantik!

Ada juga hiasan dan miniatur berupa hiasan dinding, miniatur becak atau candi, asbak, vas bunga, dan lain-lain. Harganya pun berkisar mulai dari puluhan hingga ratusan ribu. jangan lupa berbelanja untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

3. Desa Wisata Banyusumurup

Siapa yang tidak kenal keris? Senjata khas dari Jawa ini sungguh populer dan menjadi bagian dari upacara adat atau acara-acara besar di Pulau Jawa. Anda bisa mengenal keris dan melihat pembuatannya dari dekat di Desa banyusumurup yang terletak di Kabupaten Bantul.

Ternyata, pembuatan keris tidak semudah yang dikira. Anda bisa melihat proses awal hingga akhir pembuatan keris di desa ini. Keris dibuat dengan alat-alat yang sederhana, seperti paku tatah, palu, alat pelebur, dan alas. Pembuatan keris dilakukan dengan teknik tempa yang rumit. Kerumitan pembuatan keris terletak pada seni tempa pamor atau motif ukir logamnya.

Proses penyelesaian pembuatan keris memang bisa dilakukan oleh para pengrajin keris. But, proses awal pembuatan keris pada tahap tempa tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang di Desa Banyusumurup, hanya bisa dilakukan oleh Mbah Jiwo. Dia adalah generasi ke-20 dari Kerajaan Majapahit dan mempunyai sosok yang karismatik. Puas melihat prosesnya, Anda juga bisa membeli keris di tempat ini sebagai oleh-oleh. Harganya pun beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah!

4. Desa Wisata Kebon Agung

Ingin kembali ke sawah dan melupakan hiruk pikuk kota? Anda bisa berkunjung Desa Wisata Kebon Agung di Kabupaten Bantul. Di sini ada persawahan yang luas dan Anda bisa mengenal kehidupan para petani dari dekat.

Para wisatawan akan dikenalkan lebih dekat tentang pertanian di desa ini. Anda akan diajak untuk memilih bibit, menanam padi, mempelajari sistem irigasi, hingga membajak sawah dengan kerbau. Ada juga upacara-upacara yang dikenalkan di tempat ini, salah satunya adalah upacara Wiwit yang berisi kegiatan memberikan sesajen atau sesembahan berupa hasil pertanian.

Udara khas pegunungan dan pemandangan serba hijau dapat Anda temukan di desa ini. Desa Wisata Kebon Agung juga terletak tidak jauh dari Makam Imogiri, makamnya raja-raja Jawa.

5. Desa Wisata Ledok Sambi

Terletak di Jalan Kaliurang, Kecamatan Pakembinangun, Desa Ledok Sambi akan menawarkan beragam macam kegiatan outbound yang menyenangkan. Di sini pun udaranya sangat sejuk dan serba hijau.

Ada beragam kegiatan outbound dan kegiatan yang menyenangkan di desa ini. Anda dapat menyusuri hutan, mengenal masyarakat desa yang hidup secara tradisional, berkemah, hingga mencoba flying fox yang melintasi jalur aliran lahar dingin Merapi sepanjang 200 meter. Seru!

Tidak hanya keluarga, desa ini juga ramai dikunjungi oleh anak-anak kuliah dan karyawan-karyawan perusahaan. Terang saja, aneka macam kegiatan outbound akan membentuk kerjasama tim yang lebih tangguh di desa ini.

Anda pecinta travelling, atau ingin menghabiskan waktu liburan anda, segera gunakan waktu liburan anda untuk menengok dan menikmati 5 desa wisata yang kami ajukan.
"SEMOGA BERMANFAAT :)"

Disadur dari: http://travel.detik.com/read/2012/06/27/125440/1952028/1025/5-desa-wisata-di-yogya-yang-wajib-anda-kunjungi

Thursday, June 28, 2012

Sejarah Berdirinya Kota Yogyakarta




Keberadaan Kota Yogyakarta tidak bisa lepas dari keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang memperjuangkan kedaulatan Kerajaan Mataram dari pengaruh Belanda, merupakan adik dari Sunan Paku Buwana II. Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada hari Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiulakhir 1680 atau bertepatan dengan 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi yang telah bergelar Susuhunan Kabanaran menandatangani Perjanjian Giyanti atau sering disebut dengan Palihan Nagari . Palihan Nagari inilah yang menjadi titik awal keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Pada saat itulah Susuhunan Kabanaran kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Setelah Perjanjian Giyanti ini, Sri Sultan Hamengku Buwana mesanggrah di Ambarketawang sambil menunggui pembangunan fisik kraton.

Sebulan setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tepatnya hari Kamis Pon tanggal 29 Jumadilawal 1680 atau 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta dan memiliki separuh dari wilayah Kerajaan Mataram. Proklamasi ini terjadi di Pesanggrahan Ambarketawang dan dikenal dengan peristiwa Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram – Ngayogyakarta. Pada hari Kamis Pon tanggal 3 sura 1681 atau bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintahkan untuk membangun Kraton Ngayogyakarta di Desa Pacethokan dalam Hutan Beringan yang pada awalnya bernama Garjitawati.
Pembangunan ibu kota Kasultanan Yogyakarta ini membutuhkan waktu satu tahun. Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan dari Pesanggrahan Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Peristiwa perpindahan ini ditandai dengan candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal berupa dua ekor naga yang kedua ekornya saling melilit dan diukirkan di atas banon/renteng kelir baturana Kagungan Dalem Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlathi. Momentum kepindahan inilah yang dipakai sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta karena mulai saat itu berbagai macam sarana dan bangunan pendukung untuk mewadahi aktivitas pemerintahan baik kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap. Berdasarkan itu semua maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada tanggal 7 Oktober 2009 dan dikuatkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.


Sumber :
Risalah Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No 6 Tahun 2004.
Untuk info lebih lanjut mengenai serba-serbi Jogja, silahkan kunjungi website resmi dinas pariwisata dan kebudayaan kota yogyakarta===http://pariwisata.jogjakota.go.id